Modern Gray Smoke Glass Pendant Light 110 240V E27 Ceiling Clear Amber Glass Lights Nordic kitchen Fixture Hanging Lamp

Wholesale skoda octavia a3, glass water pipes

Parts Chandelier

Blue,brown. Working temperature: Modern pedant style. Wholesale chandelier bronze. Natural sea shells. Lamp modern hanging. Wholesale chandelier hallway. Polished. Flower pot head. Function 2: Floating clouds pendant lights. Switch bakelite. P203c. Living room pendant lights. 

Wooden Chandelier Resin

Lamp loft retro. Home: Metal and glass. Diameter 46cm. Dj10300. Dj10704. Lamp body material: D40*h70cm. String lamp pendants. Wholesale kabiku wall. 

Wholesale D1s Xenon

Jb-octavia 2-8. Gd07-w-3. Wholesale texaco. Stainless steel,abs. Industrial lighting. Housing recessed. Studios, villas, clubs, hotels, high-end model room. Feature11: Iwhd1475. Within 1-2 days after received payment. 

Light Dining Room

Window falseness. Lamp mirror. Aluminum in white. 1ewth345. Hanging copper light. Lights pendant white. Small room chandelier. Lamp body is the main material: D-00025. Parlor,master bedroom,hotel hall,study,hotel room,other bedrooms. Traditional ceiling fans. Lamp brass edison. Current: Various sizes for option. 


ntent="tumblr-feed:tumblelog" /><"http://namasayakinsi.tumblr.com/page/3" />
Riuh is now available for Pre-Order. Here’s how: https://goo.gl/RXIsPR.

Riuh is now available for Pre-Order. Here’s how: https://goo.gl/RXIsPR.

here’s one brutally honest teaser: this book is /just/ a compilation of stories ive written (and shared) for the past 3 years, so the entire content of Riuh… some of you had probably seen them on tumblr. i don’t want anyone buying the book to think...

here’s one brutally honest teaser: this book is /just/ a compilation of stories ive written (and shared) for the past 3 years, so the entire content of Riuh… some of you had probably seen them on tumblr. i don’t want anyone buying the book to think there’ll be fresh, unpublished pieces and get ultra upset/disappointed to find none. pls know that im booing myself too for not being able to feature (or even create) new ones. this is me doing one pedagang jujur move and i hope you all have a good weekend.

PRE-ORDER STARTS 10.10.16.

PRE-ORDER STARTS 10.10.16.

sebelas:sebelas - minggu

oh, tentang akhir pekan, ya?

sabtu malam, kami pergi tidur pukul sepuluh, mengabaikan dunia yang masih bingar, agar bisa bangun pagi sekali demi tempat kosong untuk menggelar tikar dan piknik di taman.

aku menyiapkan beberapa potong sandwich dan dua botol limun dingin –kami tidak berbagi makanan; untuknya makanannya dan untukku makananku– dan dia kebagian tugas menyusun daftar putar untuk didengarkan bersama; karena kami sepakat, menikmati musik bagus adalah hak setiap manusia.

khayalan penonton jelata: Ada Apa Dengan Cinta (bagian ketiga)

Sinopsis dan Keterangan

Bagian Pertama

Bagian Kedua

Rangga dilindungi benteng kokoh yang telah berdiri berpuluh tahun. Sejak ibu kandung dan kakak-kakaknya menghilang tanpa kabar, Rangga menarik dan mengasingkan diri sepenuhnya dari dunia luar.

Ia berhenti mengunjungi teman-teman baik yang tinggal tak jauh dari rumah, berhenti bicara pada teman sebangkunya, berhenti menjadi anak usia 10 tahun yang sebelumnya lincah dan periang.

Bukan apa-apa, Rangga hanya risih ditanya-tanya. Ia juga risih terus-terusan mengaran g jawaban. Dan ia paling benci tatapan kasihan.

Rangga merasa aman dalam bentengnya. Lagipula, dengan mengurangi interaksi, ia selamat dari resiko disakiti, ditinggal pergi, atau dikecewakan.

Lalu tiba-tiba, Cinta terjadi.

Cinta adalah satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang Rangga sayangi dan pedulikan sebagaimana ia pada ayahnya (dan, meski tak pernah ia ucapkan, ibunya yang hilang). Puluhan purnama mengenal Cinta, Rangga lupa akan bentengnya. Mereka berdua sibuk membangun benteng baru; tak membiarkan intervensi banyak tangan; karena apa yang Rangga dan Cinta rasa dan percayai kadang hanya mereka saja yang mengerti.

Setiap kali mereka bertukar sapaan selamat pagi, Rangga yakin seyakin-yakinnya ia tidak akan pernah lagi jatuh sedemikian rupa untuk seorang hawa.

Maka sebelum kepulangannya minggu depan, Rangga sudah menyusun rencana besar:
ia ingin Cinta.

Sebagai istrinya.

Rencana Rangga tidak pernah terlaksana. H-7, ia menemukan ayahnya tergeletak di lantai kamar. Ketika beliau telah dibawa masuk ke ER untuk mendapat pertolongan, Rangga baru sadar di telapak tangannya ada bekas dalam karena sepanjang perjalanan ke rumah sakit, ia mengepal kuat-kuat; begitu takut kehilangan (lagi) dan ditinggal sebatang kara.

Serangan stroke. Seharusnya Rangga sudah lama waspada; penyakit darah tinggi, kebiasaan bekerja dan berpikir terlalu keras, serta pola makan yang tak dijaga, akan berujung bahaya.

“Ta.”

“Eh, orang New York rupanya. Ada apa nih jam segini nelepon saya?”

“…”

“Rangga?”

“Sepertinya saya nggak jadi ke Jakarta, Ta.”

“Rangga kamu baik-baik aja kan? Seharian ini perasaan saya nggak enak.”

“Ayah saya.”

Cinta kalut. “Kenapa? Om kenapa?!”

Ada jeda yang begitu lama sebelum akhirnya Rangga sanggup mengucapkan kata itu.

“Kritis, Ta.”

Semesta Rangga serta merta berpindah pusat. Ayahnya berhasil diselamatkan, namun sebelah badannya lumpuh; menghilangkan segala kemandirian yang sebelumnya amat beliau banggakan. Sebagai satu-satunya anggota keluarga, Rangga praktis harus turun tangan mengurusi segala keperluannya.

Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai jurnalis; karena jurnalis sesungguhnya jarang punya waktu lebih untuk hal-hal di luar profesi. Demi menghidupi dua nyawa, dan agar punya dana untuk menebus obat-obatan, Rangga menyetujui ajakan temannya memodali kafe kecil di area kampus mereka. Pemilik modal punya fleksibilitas. Persis yang Rangga butuhkan.

Pulang ke Jakarta bukan opsi. Toh mereka juga tidak punya siapa-siapa lagi.

Kecuali Cinta, mungkin.

Cinta yang selalu peduli. Yang menyayangi dan menghormati ayahnya seperti paman sendiri. Yang mengesampingkan pertanyaan pentingnya karena memahami situasi. Yang tahu-tahu sudah sampai di New York; membaw a bermacam buah tangan dan dukungan semangat.

“Om harus cepet sembuh ya, Om. Kalau om sakit kasihan si monyet sedih.”

Semakin ke sini, Rangga merasa satu-satunya yang ia beri ke Cinta hanya tambahan beban pikiran. Masalah Rangga tidak seharusnya menjadi masalah Cinta juga.

Diambilnya keputusan.

Ia akan melepaskan.

Cinta yang asyik bermonolog di depan ayah Rangga yang hanya menatap kosong, diajak Rangga bicara sebentar di kedai kopi kecil yang kini ia miliki setengah sahamnya.

“Kamu nggak perlu mengasihani saya, Ta.”

“Ngasihani gimana?”

“Kamu sudah terlalu baik. Saya hargai itu. Tapi nggak bisa terus-terusan, Ta.”

“Kamu ngantuk ya? Ngomongnya mulai ngaco.”

“Saya nggak tahu apa yang pernah saya bilang yang bikin kamu berharap, percaya dan nungguin saya sampai selama ini. Tapi lebih baik saya bilang sekarang. Kita itu ide yang fana. Saya nggak bisa j anji apa-apa. Nggak sekarang. Nggak nanti. Kamu tunggu juga percuma.”

“Ini apa sih?”

“Beban saya udah cukup banyak, Ta. Tolong mengerti.”

“Saya.. kamu anggap beban?”

“Hidup saya akan jauh lebih ringan kalau nggak perlu memikirkan kamu lagi.”

“Oh. Okay,” Cinta merespons setelah beberapa saat. “Kamu bener. Semua ini emang sia-sia. Rugi waktu di kamu dan di saya.”

Cinta bangkit dari kursi; berjalan cepat mencapai pintu kafe. Perempuan yang membangunnya adalah juga perempuan yang justru ia hancurkan. Setelah malam itu, mereka tidak pernah bicara lagi. Rangga mahfum. Ia tahu ia tidak pantas dimaafkan.

(Bertahun-tahun kemudian, mereka dipertemukan nasib di kota Jogja. Walau sebenarnya di situ peran nasib hanya sedikit; selebihnya adalah urusan pilihan. Rangga memilih menghubungi Cinta, meminta kesempatan bicara, dan Cinta membuat pilihan menemui Rangga, de mi mendengar penjelasan yang selalu berhak ia dapatkan. Untuk mengetahui bagaimana pertemuan itu berlangsung, mari kita nantikan rilisnya AADC2)

khayalan penonton jelata: Ada Apa Dengan Cinta (bagian kedua)

sinopsis dan keterangan

bagian pertama

“Jadi sebenernya lo sama Rangga tuh jadian nggak sih, Ta?”

“Kenapa harus ada labelnya?”

“Ya perlulah… biar nggak gantung…”

“Gue percaya sama Rangga. Gue juga yakin dia percaya sama gue. Kita saling percaya.
Itu aja nggak cukup ya, Ra?”

Cinta mengerti kekhawatiran sahabat-sahabatnya. Puluhan purnama bersama, Cinta dan Rangga masih tanpa nama. Mereka bertumbuh seiring perkembangan rupa-rupa medium komunikasi; mulai dari sms dan messenger hingga skype dan facetime; membahas yang menarik minat, mengusik pikiran, atau meme nuhi kepala.

(dulu, saat bertelepon masih mahal, Cinta hanya bisa mendengar suara Rangga di hari-hari istimewa, seperti hari ulangtahunnya, atau setiap kali salah satu dari mereka punya berita bahagia)

Dalam sepuluh tahun kebersamaan itu, terhitung enam kali Rangga pulang ke Jakarta. Tiga kali sendirian, tiga kali bersama ayahnya. Cinta pun menyempatkan waktu kabur ke New York untuk mengunjungi Rangga di tengah-tengah keikutsertaannya di turnamen debat internasional yang berlangsung di Philadelpia.

(Sepuluh tahun, wow, suatu kali Cinta pernah dilanda ketakutan hebat; bagaimana kalau ternyata, seumur hidupnya ia benar-benar akan jatuh cinta sekali itu saja? Tapi dipikir-pikir lagi, kalau orangnya Rangga sih ya nggak apa-apa)

Ribuan topik sudah mereka cakup. Sastra, politik, budaya, filosofi, agama, cinta, ekonomi, sains; ospek kampus Cinta yang menguji ketangguhan jiwa dan raga, kehidupan Rangga sebagai mahasiswa dual degree di New York yang masih pula berani-be raninya mengambil pekerjaan tambahan, update mengenai anggota geng Cinta serta update balasan mengenai kelakuan konyol rekan-rekan asrama Rangga, keprihatinan yang timbul saat melihat anak kecil di depan starbucks meminta-minta menggunakan gelas bekas kopi starbucks, proposal skripsi Cinta, viva thesis Rangga, pengalaman magang dan karier pertama mereka berdua, keputusan Cinta menyambung kuliah,

almost everything,

kecuali tentang kita.

Pada saatnya, Cinta tahu kita harus dibicarakan. Hubungan ini amat menyenangkan, mereka sama-sama saling (sangat) sayang, tapi tidak ada yang tahu kemana ini akan dibawa.

Kesempatan datang saat Rangga tiba-tiba mengirimkan salinan tiket pesawat elektronik bertanggal dua minggu dari hari dikirimnya. Cinta, yang sedang begadang menyelesaikan target revisi thesis, tergesa menghubungi Rangga via skype call. Tanpa tampilan video, tentu, sebab kantung mata dan muka lelahnya tak ingin ia perlihatkan.

&l dquo;Heyyy, mau ke Jakarta ya?”

“Kamu kok belum tidur?”

“Iya nih dikejar target revisi, hehe.”

“Emangnya kapan deadlinenya?”

“Pas kamu dateng. Kamu dalam rangka apa ke Jakarta? Assignment?”

“Oh, bukan. Ayah saya ada undangan ngasih lecture di UI. Kebetulan jatah cuti juga belum kepake sama sekali jadi ya ikut aja sekalian. Seneng nggak?”

Cinta sumringah. “Ya seneng lah, orang ketemunya jarang.”

Di seberang sana ia mendengar Rangga tertawa renyah. Suara favoritnya. If only she could hear it in person right now; sembari memperhatikan mata Rangga yang menyipit, barisan giginya yang rapi, dan senyumnya yang enggan surut sampai beberapa waktu sehabis tertawa.

Sering ia berkhayal tentang suatu masa dimana mereka bisa bertemu kapan saja; tidak lagi dihalangi laut luas dan perbedaan zona waktu yang (amat) mengganggu. Cinta lalu teringat, sebelum berangan tentang hari depan, ia masih punya hutang pada seluruh umat manusia yang ingin kisah mereka terdefinisi.

“Eh iya, saya ada yang mau diomongin nih. Tapi nanti pas ketemu.”

“Saya juga mau menyampaikan hal penting, Ta. Penting sekali.”

Nada bicara Rangga yang di awal percakapan santai dan ringan kini terdengar berbeda. Cinta terdiam cemas. An urgent ‘we need to talk’ was never a good sign.

“Ah kamu ngomongnya jangan gitu dong. Bikin takut aja.”

“Bukan berita buruk kok, Cinta. Justru sebaliknya.”

“Kamu dapet promosi? Eh atau jangan-jangan buku yang kamu bilang waktu itu udah selesai ditulis ya?”

“Nanti saja ya, Ta, di Jakarta.”

Kepulangan Rangga yang kali ini beraroma misteri. Cinta tak tahan bertanya.

“Boleh saya tahu ini tentang apa?”

“Kita.”

Puluhan purnama bersama, rupanya mereka sepakat ini memang sudah saatnya.

khayalan penonton jelata: Ada Apa Dengan Cinta (bagian pertama)

sinopsis dan keterangan

Tidak ada yang percaya Rangga akan kembali dalam satu purnama. Di ruang mading yang mereka cintai, lima perempuan muda sedang mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan.

Karmen yang selalu logis bilang, janji Rangga memang puitis, tapi tidak praktis.

“Harga tiket pesawatnya aja udah berapa bolak-balik. Belum urusan izin sekolah. Walaupun gue ga tau sistem pendidikan di sana gimana, tapi kita tuh udah kelas tiga, ga mungkin bisa bolos lama-lama. Dan lebih nggak mungkin lagi dia udah jauh-jauh sampe sini terus di Jakartanya cuma sehari. Gue ragu deh, Ta, dia bakal balik bulan depan.”

“Kalau gue sih daripada penasaran mending tanya aja langsung ke Rangganya. Kirim email, sok-sok nanya kabar. Kalau orangnya emang serius pasti nanti dia ngebahas deh, tentang yang dia janjiin di puisi,” timpal Maura, sedikit banyak ikut gemas karena sejak berpisah di bandara, belum sekalipun Cinta dan Rangga saling menghubungi.

Milly mengerutkan dahi. “Tapi kan gengsi, Mor. Masa Cinta yang mulai duluan?”

“Lah emangnya kenapa?”

Alya yang biasanya diam menyimak, kali ini turut menyumbang pendapat. “Kalau yang gue liat, Rangga itu bukan orang yang suka ngomong kosong. Apa yang dia tulis pasti udah dipertimbangkan. Tapi mungkin maksud Rangga satu purnama itu nggak harfiah, Ta. Mungkin itu cuma kiasan, tapi suatu saat dia pasti balik.”

Tidak ada yang percaya Rangga akan kembali dalam satu purnama.

Tidak juga Cinta.

“Gue juga nggak ngarepin dia balik bulan depan kok, Al.” Dipaksakannya tersenyum. “Dia pasti masih sibuk lah, ngurus ini itu.”

Ketika nanti sudah satu purnama, Cinta hanya (berani) berharap mendapat kabar. Terserah apakah datang lewat email, surat, tele pon, sms, bahkan telegram; kalau-kalau Rangga memang seketinggalan itu. Bagi Cinta, memberi kabar akan jadi satu-satunya penanda keseriusan Rangga. Lagipula, ia sudah rindu sekali.

“Cinta, bangun Nak.”

“Ini kan hari Sabtu, Bu.”

“Ada tamu yang nungguin di bawah.”

“Siapa, Bu?”

“Katanya namanya Rangga. Yang dulu beberapa kali pernah nelepon itu ya?”

“Ibu jangan becanda dong.”

“Ibu serius. Kamu lihat saja di bawah.”

Cinta bergegas ke kamar mandi dan membasuh mukanya berkali-kali. Dingin. Ia tidak sedang bermimpi. Setelah mandi dan mematut diri (yeap, she doesn’t want to risk it, siapa tahu yang menunggu di bawah benar-benar Rangga yang itu, kan tengsin kalau ketemu dalam keadaan kucel dan sembab), Cinta turun menemui tamunya.

“Nah ini dia Cintanya. Lama amat kamu.”

“Maaf, Yah. Tadi lagi… ngeringin rambu t.”

“Ya sudah, om tinggal dulu ya, Rangga. Mau ngurus tanaman. Kalian silahkan ngobrol dulu.”

“Iya, Om. Terimakasih, Om.”

“Oh iya. Nanti pulangnya jangan malam-malam.”

“Siap, Om.”

Setelah ayahnya berlalu, Cinta merasa ruangan itu mendadak hampa udara. Rangga tersenyum simpul, Oh God, she wants to hug him right there and then.

“Sehat kan, Ta?” adalah kalimat (tanya) pertama yang Rangga lontarkan, masih tersenyum, kali ini lebih lebar.

“Kamu kok…”

“Iya, saya baru sampai subuh tadi. Kamu sehat, kan?”

“Kok…”

“Kenapa sih? Ngeliat saya udah kayak ngeliat siluman.”

“Sumpah saya bener-bener nggak tau harus ngomong apa.”

“Dijawab dong, Ta. Kamu sehat?”

“Tadi sih pas bangun saya sehat. Tapi kayaknya saya mendadak demam deh saking shocknya. Kok bisa seorang Rangga yang harusnya di New York tiba-tiba muncul di ruang tamu saya.”

Rangga tertawa. “Saya kan sudah janji satu purnama. Saya nggak lupa, Ta.”

Mata Cinta berkaca-kaca. Hatinya dipenuhi haru. Dieratkannya kepalan tangan untuk menguatkan diri. “Kamu apa kabar?”

“Baik. Cuma agak jetlag.”

“Lagian kenapa langsung ke sini sih, bukannya istirahat dulu. Segitunya, ya, pengen ketemu saya?”

“Iya. Saya kangen.”

Mengenalnya sebagai manusia yang tertutup dan kurang ekspresif, jawaban frontal Rangga (dan tatapan matanya yang tulus dan hangat) mengagetkan Cinta. Ia tidak mempersiapkan diri mendengar yang barusan ia dengar. Rasanya ia mau tumbang.

“Eh iya, mau minum apa? Teh? Kopi?”

“Kalau kita jalan aja, mau? Saya tadi sudah izin sama ayah kamu.”

“Boleh. Kemana?”

“Salah satu tempat favorit saya di Jakarta.”

Cinta mengangguk ce pat. Penantian satu purnamanya berbuah kabar yang disampaikan langsung oleh si empunya badan. Diulangnya kembali segala detil yang terjadi dalam tiga puluh menit ke belakang.

Kepulangan Rangga yang tak diduga-duga, pengorbanannya dibalik kepulangan ini, jawabannya yang frontal, ajakan ngedate yang hati-hati, dan maksud tersirat untuk lebih saling mengenal.

Cinta tahu, ini cara Rangga menunjukkan kesungguhan.

Ia tidak perlu apa-apa lagi.

khayalan penonton jelata: Ada Apa Dengan Cinta

(fanfiction ini saya buat dalam rangka ikut kompetisi. semua peserta diminta menulis cerita yang dapat menjembatani gap 14 tahun antara aadc satu dan dua. waktu itu sekuelnya belum tayang, jadi murni disuruh pakai imajinasi dan sedikit raba-raba dari apa yang trailer-nya perlihatkan. berhubung kompetisi sudah usai dan aadc dua sudah rilis, saya mau nutup akun di website yg kmrn jadi pihak penyelenggara. toh ga diurus juga. daripada tulisannya dibuang/dihapus total saya pindahin ke sini aja gapapa ya. sayang.)

Sinopsis

Bertolak belakang dengan prediksi semua orang, Cinta dan Rangga adalah kisah cinta pertama yang bertahan. Sebulan setelah keberangkatan Rangga ke New York, teman-teman Cinta sangsi ia akan benar-benar kembali. Namun, sebagaimana yang secara implisit telah ia janjikan di baris penutup puisinya –Cinta ingat betul itu hari Sabtu pagi, ia kira ia masih setengah mimpi– Rangga muncul di depan pintu rumahnya; memperkenalkan diri kepada Ayah dan Ibu Cinta; bertanya dengan sopan apakah ia boleh mengajak Cinta keluar barang sebentar.

Sejak saat itu hingga sepuluh tahun setelahnya, Rangga tidak pernah memberi Cinta alasan untuk berhenti percaya. Sampai suatu kejadian besar mengguncang Rangga. Mengubah Cinta. Meruntuhkan mereka.

Bertahun-tahun kemudian, mereka dipertemukan nasib di kota Jogja. Walau sebenarnya di situ peran nasib hanya sedikit; selebihnya adalah urusan pilihan. Rangga memilih menghubungi Cinta, meminta kesempatan bicara, dan Cinta membuat pilihan menemui Rangga, untuk mendengar penjelasan yang selalu berhak ia dapatkan.

rarasekar:

Pada suatu sore, Ben K. C. Laksana cerita kalau dia baru aja tukeran email dengan salah satu dosen filsafat budaya di Unpar setelah mereka berdua terlibat dalam acara penjurian lomba foto. Kira-kira reka ulang percakapannya seperti ini:

“Alamat emailnya nih apa pak? Saya catet dulu ya.”

“Lelatunipun. Wah apa artinya nih pak?” tanya Ben.

“Oh itu artinya api-api kecil dalam bahasa Jawa, Ben.”

Api api kecil. Frasa yang sangat sederhana tapi anehnya kok buatku nyentuh banget ya? Sejak pertama kali denger, aku ga bisa lupain dan terus mikirin. Aku tetiba keinget tentang kawanku Antonius Ali dari Atambua yang ingin belajar pertanian organik untuk suatu hari bisa mempraktikkan di desanya, tentang adik-adik Rumpin dan semangat belajarnya yang sebenarnya mengalahkan kakak-kakaknya, tentang seorang bapak tua yang menempuh ujian kejar paket C supaya mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan bisa menafkahi keluarganya. Tentang semburan cahaya yang tak perlu besar untuk terus bisa menyala.

Terima kasih ya Ben dan Pak Bambang untuk inspirasinya. Sampai-sampai ga bisa aku bendung keinginan buat bikin lagunya padahal lagi masa ujian hahaha.

Dan untuk kalian api-api kecil di dunia, terima kasih dan teruslah menyala :) Sebuah lagu untuk menyemangati Mas Gardika Gigih Pradipta yang lagi rekaman untuk albumnya yang secara kebetulan berjudul ‘Nyala’. <3


(via rarasekar)

<3

it’s impossible to look at these beauts and not feeling uplifted.
.
.
.
#unfiltered #canon #50mm #lastspring #namisom

it’s impossible to look at these beauts and not feeling uplifted.
.
.
.
#unfiltered #canon #50mm #lastspring #namisom